Minggu, 03 Mei 2009

Harap Maklum

Telah Tiga Kali Berganti Nama
Blog ini telah berganti nama tiga kali, pertama: imajidinihari, kedua: bumikata terakhir blog yang anda baca sekarang ini. Penulisnya sangat plin-plan. Bila Templatenya tidak disuka maka diganti lagi. Selain itu bila nama blognya dia rasa tidak bagus jadi diganti lagi.
Padahal niat untuk membuat blog adalah untuk mempublikasikan tulisan agar ada orang yang bisa mengkritik tapi penulisnya malah tidak konsentrasi pada tulisannya tapi berkonsentrasi pada tampilan luar, yaitu template dan nama.
Haruskah Ada Alasan Untuk Menulis?
"Saya tidak pernah memutuskan untuk menjadi penulis. Pada awalnya saya tidak berharap mendapatkan nafkah dengan dibacanya karya saya. Saya menulis sebagai seorang anak yang gembira ketika memahami hidup lewat pikiran saya,"
(Nadine Gordimer)
Saya mengutip tulisan itu dari www.ruangbaca.com, edisi 31 Maret 2009 yang ditulis oleh Sidik Nugroho. Saya mengutip tulisan itu bukan untuk angkuh-angkuhan atau berlagak seperti penulis hebat tapi apa yang dikatakan oleh Nadine Gordimer itu sangat mewakili saya.
Ketika pertama kali membaca kalimat “saya menulis sebagai seorang anak yang gembira ketika memahami hidup lewat pikiran saya,” saya langsung merasa menemukan teman dalam hal alasan mengapa saya harus menulis.
Pertanyaan “mengapa saya harus menulis?” acapkali menerorku. Buat apa aku menulis, toh aku adalah mahasiswa Geografi yang seharusnya menyibukkan diri dengan menggambar peta. Buat apa aku menulis, toh tulisan itu tak akan sudi dibaca oleh orang lain karena buat mereka membuang waktu membaca tulisanku yang tak berjenis kelamin. Mau dikategorikan puisi, bukan juga, mau dikategorikan esai, bukan juga atau apa pun jenis genre sastra.
Dilain sisi, aku adalah orang yang terbiasa melakukan sesuatu dengan terlebih dahulu harus menemukan alasan mengapa aku harus melakukan hal itu. Misalnya bila aku makan maka aku kenyang. Bila aku tidur maka rasa lelahku akan hilang. Bila aku mandi maka badanku tidak bau. Sedangkan bila aku menulis maka aku akan mendapatkan apa?.
“Aku menulis, yah karena aku ingin menulis, itu saja” kataku dalam hati. Akibatnya, aku tak pernah menulis lagi untuk beberapa waktu yang lama. Tapi aku merasakan pikiranku tersumbat. Aku membayangkan pikiranku seperti air yang berada dalam bak mandi yang tak pernah digunakan. Bila air itu tak dikuras maka akan membusuk atau menjadi sarang jentik-jentik nyamuk. Bila aku tidak menulis maka segala lintasan ide yang konon mencapai 4000/24 jam yang ada dikepalaku tidak tahu akan kualirkan kemana. Aku sempat khawatir sebentar lagi aku akan jadi orang gila. Akhirnya aku mengambil kertas dan mulai menulis segala hal yang ada dalam pikiranku.
Pernah suatu waktu aku marah pada seorang teman dan telah lama aku sangat ingin melampiaskan dengan cara memukulnya tapi jelas bila tindakan itu kulakukan maka akan muncul masalah baru, tapi bila kupendam lagi maka akan menjadi penyakit juga. Aku mencoba menghindar bila aku bertemu dengannya tapi rasa amarah itu tetap ada. Aku pun mengambil kertas buram lalu menumpahkan kata-kata caci maki terhadap temanku itu. Hasilnya, rasa amarah yang melilitku itu berangsur-angsur mengendur.
Tak terasa aku terus menulis hingga kini. Ajaibnya, aku merasakan ada yang kurang bila dalam sehari aku tak menulis. Apa saja yang aku tulis dalam diary. Segala emosi, pemikiran dan cita-cita kutuliskan disana. Hasilnya, aku menemukan banyak hal, mulai dari siapa aku sebenarnya, semangat hidup, solusi bila aku mendapatkan masalah, teman yang bersedia mengangkatku bila “terjatuh”, apa sebenarnya yang kuinginkan dalam hidup ini, istri yang meredam rasa amarahku yang sering memuncak, cita-citaku, potensiku dan yang kusuka dan kubenci dari orang lain. Singkatnya dengan menulis saya memahami hidup lewat pikiran saya sama seperti yang dialami oleh Nadine Gordimer. Terakhir saya sangat berharap bisa menjadi penulis peraih nobel seperti beliau. Amiiin.
Terakhir aku mengutip lagi sepenggal tulisan Radhar Panca Dahana dalam pengantar kumpulan cerpenya “Cerita-cerita Negeri Asap”:
“Radhar telah menulis dan itu lantaran alasan yang elektronik: ia memiliki diri yang berdegum hati, pikiran dan kelenjar-kelenjar biologisnya, dimana bahasa prosa yang meluncur dari jari-jarinya tak terhindar untuk bicara. Ia tak berani berharap ada diri lain yang menagkap dan berdialog dengannya di kesunyian alam gagasan. Sebagaimana ia tak berharap prosa dapat menyelamatkan hidupnya yang tenggelam…”
Akbar Mas'ud
Awalnya Empat Baris Tulisan
Siang itu selepas makan siang, aku iseng-iseng mengamati undangan resepsi pernikahan salah seorang temanku. Undangan itu memang unik karena menyerupai buku nikah.Kubuka lembar demi lembar undangan itu. Tak ada yang istimewa karena memang aku telah melihat sebelumnya namun sampai pada lembar terakhir, tubuhku bagai tersengat arus listrik. Aku terkejut dan terkesima membaca delapan baris tulisan ini:
Love is not about finding the right person
but creating a right relationship
it's not about how much love you have in the beginning
but how much love you build till the end.
kuulang hingga lima kali agar makna yang terkandung dalam tulisan itu kuresapi baik-baik. Setelah itu senyumku mengembang. Bila tulisan itu benar dibuat oleh temanku yang menikah ini, itu pertanda ada kepasrahan yang luar biasa yang melatar belakangi pernikahannya.
Pertamakali mengenal temanku itu saat ada rapat di organisasiku. Dia orangnya cantik, anggun dan ramah. Apalagi bila ia tersenyum, serupa lukisan Monalisa. Pantas saja bila beberapa lelaki yang kukenal naksir kepadanya.Akhirnya organisasi yang membuat kami harus intens berkomunikasi karena pada sebuah kegiatan, aku jadi ketua dia bendahara. Pada tahap inilah aku mengenal dia lebih jauh.Ternyata impresi yang kurasakan saat pertama kali bertemu, terbukti. Di kepanitiaan, selain ramah, dia juga bertanggung jawab dan perhatian. Ini bukan perkara mengada-ada tentang kepribadiannya karena menurutku kurang lebih dua bulan kegiatan itu bukan waktu yang sebentar untuk menjajaki persahabatan.Setelah kegiatan usai, kami hanya bertemu sesekali. Kebanyakan berpapasan di jalan. Kebetulan bila ia ingin menuju ke tempat kuliahnya, ia harus melewati tempat kuliahku dulu.Tak ada yang berubah padanya. Dia tetap seorang wanita yang cantik, anggun dan ramah. Senyumnya pun tetap indah namun badannya bertambah kurus dan matanya bertambah sayu.Kebetulan dia kuliah di Jurusan Teknik Sipil. Jurusan yang berhubungan erat dengan gambar menggambar ini tak pelak membuatnya sering jatuh sakit. Pernah ia mengeluh padaku melalui SMS kalau penyakit maagnya bertambah parah karena sering terlambat makan. Pernah juga ia tidak tidur dua hari dua malam karena harus menyelesaikan tugas gambar.Waktu pun terus merambat, tak pernah lagi ada moment yang mempertemukan kami hingga beberapa tempo yang lama. Yang kutahu, kabarnya ia sedang ber-KKN di kampungnya sendiri.Tok, tok, tok...rington "willow" di ponselku berbunyi. Tertulis di layar 1 pesan diterima. Kutekan tombol untuk menampilkan pesan itu, ternyata dari dia. Kurang lebih smsnya seperti ini:"Assalamu Alaikum... Tuk tman2 datang yach ke acaraq... *SENIN. 04-08-2008* *PUKUL 10.00 - 12.30* *JLN LANGGA, KOMPLEKS BTN PINRANG PERMAI* datang ki' naah... coz tiada kesan tanpa kehadiranmu... (nama temanku itu)"
Kalimat terakhir mengusikku karena biasanya kalimat seperti itu sering kubaca pada undangan resepsi pernikahan teman-temanku, kalau tidak salah istilahnya "undangan sobat-sobit" tapi muncul juga persepsi lain dalam diriku. Apakah SMS bukan hal sepele untuk mengundang orang pada suatu acara sakral. Aku yakin dia tidak begitu. Apalagi sebelum-sebelumnya aku tak pernah mendengar kabarnya bila ia ingin menikah. Hingga pada suatu siang, salah seorang seniorku yang pernah bertemu dengan dia mengabarkan bahwa ia akan menikah. Sebagian dugaanku benar. Pantas saja ada kalimat "...tiada kesan tanpa kehadiranmu..." diakhir SMSnya.Saat pertama mendengar kabar dia akan menikah, menyeruak banyak pertanyaan dalam benakku."Apakah dia akan menikah dengan pacarnya?""Bila tidak jadi sama siapa?""Apakah dengan mantan pacarnya saat SMU?""Apakah pernikahan ini sesuai dengan keinginannya ataukah pilihan orang tua?""Mengapa harus saat KKN?""Mengapa tidak menunggu hingga study S1nya selesai dulu?" Hanya pertanyaan keempat yang sedikit terjawab. Informasi yang kuterima lagi dari seniorku kalau pernikahan itu adalah kehendak orang tua, dugaanku benar lagi.Tiba acara resepsinya, aku tak sempat hadir karena kebetulan mengurus sesuatu dilain tempat. Tapi aku mendapat informasi dari bapakku yang menghadiri resepsinya, katanya berlangsung ramai, ada banyak mahasiswa yang hadir.Tapi pertanyaan "apakah pernikahan ini sesuai dengan keinginannya?" masih menggelayut dibenakku. Informasi dari seniorku dulu masih samar-samar.Tapi kesamar-samaran itu sedikit jelas lagi ketika delapan baris tulisan ber-Bahasa Inggris itu kutemukan dihalaman terakhir undangan resepsinya. Kuat lagi dugaanku mungkin dia yang menulisnya karena kutahu benar dia cakap Bahasa Inggris. Aku masih ingat juga ketika ia bercerita bahwa keinginannya kuliah di Fakultas Teknik adalah kemauan orang tuanya. Sebenarnya ia ingin sekali kuliah di Jurusan Bahasa Inggris.Bila benar delapan baris tulisan itu dia yang mengukirnya maka selain cantik, anggun, ramah, bertanggung jawab, perhatian, cakap Bahasa Inggris, memiliki senyum manis bertambah lagi kesanku padanya, yaitu misterius.Aku bangga padanya, menyatakan ungkapan dan pembesaran hati melalui delapan baris tulisan yang menyiratkan makna yang begitu dalam yang sangat jarang -bahkan mungkin tidak ada- dilakukan oleh wanita yang terpaksa menikah karena kehendak orang tua. Dia menutup kisahnya dengan manis, jujur, berani dan misterius.Tulisan itu mengandung pengungkapan kepasrahan sekaligus penguatan hati.
Akbar Mas'ud

Cerpen

Epos Si Maling Teriak Maling
Sejak aku kecil, gelar mahasiswa telah menjadi epos tersendiri dalam hidupku. Bapakku yang aktivis da’wah sering mengadakan kajian intensif islam dengan mengundang mahasiswa sebagai pematerinya. Aku juga aktif dalam organisasi keislaman yang berskala Nasional, dikader oleh mahasiswa sebagai instrukturnya.
Di TV, sebelum reformasi, aku sering menyaksikan mahasiswa berdebat tentang politik, sosial, budaya, ekonomi dan pergerakan yang dipandu oleh Fajlur Rahman (mantan aktifis mahasiswa).
Saat aku masih sekolah, mahasiswa datang mensosialisasikan perguruan tingginya di kelasku. Mereka menceritakan tentang aktifitasnya di kampus, sekalian kuliah juga berorganisasi.
Saat Soeharto lengser, mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat, agen perubahan, kontrol sosial dan moral force. Kuukir dengan tinta emas dalam benakku bahwa mahasiswa itu kritis, idealis, cerdas, kreatif, alim, jujur dan anti kemapanan.
Namun semua itu sirna tatkala untuk pertama kalinya kakiku kuinjakkan di perguruan tinggi ini. Sebagai seorang mahasiswa yang lulus pada jalur Penerimaan Mahasiswa Melalui Jalur Khusus (PMJK), aku diintruksikan oleh senior untuk melapor ke Badan Eksekutif Mahsiswa (BEM) Fakultas dan Dewan Mahasiswa (DEMA) jurusan.
Sampai di BEM, saya dijadikan orang dungu, disuruh menyanyi dan membersihkan sekretariat BEM yang bau apeknya bukan main. Aku di perintah oleh senior memfotokopi formulir penerimaan mahasiswa baru dengan menghabiskan uang Rp.50.000, gila…..!!!.
Belum cukup, saat melapor di DEMA, permintaan senior bertambah gila lagi. Aku disuruh membawa sapu lidi, ember kecil, lilin, isolasi hitam dan ikan koy. Mau diapakan barang itu? (tanyaku dalam hati, kala itu) tapi aku tak berani bertanya, aku takut senior memukulku.
Di seketariat DEMA yang pengap, senior bertanya macam-macam, mulai dari siapa nama pacar hingga dimana Tuhan berada. Pertanyaan terakhir kuanggap sebagaai sinyal sedikit kecerdasan senior. Tapi belakangan kutahu ternyata senior yang bertanya itu doyan mabuk-mabukan, tawuran, malas kuliah, shalat, apa lagi baca buku.
Masih dalam kegaiatan pengambilan perlengkapan (Pra OSPEK), aku sudah dipukul, ditampar dan ditendang. Katanya OSPEK adalah Orientasi Pengenalan Kampus tapi kok malah jadi ajang pamer-pamer “kelebihan” dan pemalakan senior.
Hal yang paling lucu adalah bila ada Mahasiswa Baru (MABA) yang cantik, maka senior pasang aksi agar diperhatikan padahal wajahnya “hancur”, menjijikkan. Mereka lalu berlomba-lomba menggombal MABA tersebut.
Tak akan pernah hilang dalam ingatanku penyiksaan ini. Saat itu pukul 12 siang, matahari bersinar garang, aku disuruh berdiri merentangkan ke dua tangan, kaki kanan diangkat lalu kepala mendongak ke matahari selama 1 jam tanpa minum apalagi makan. Setelah itu aku diperintahkan untuk menempelkan telinga diatas tanah. Senior menyuruh mendengar air yang ada dalam tanah, tak masuk akal. Kalau tidak dengar aku disuruh telentang sambil merayap. Celakanya tanah di sekretarait DEMA berbatu. Kemeja hitamku yang baru 2 pekan dibeli menjadi lusuh seakan telah digunakan selama 5 tahun.
Tak cukup menyiksa fisik, senior menguras isi dompet. Bayangkan setiap hari selama OSPEK (1 pekan) harus membeli satu bungkus rokok yang berharga Rp.6.500 dan Rp.7.000. Belum lagi membawa 2 kaleng Coca-cola yang berisi uang koin Rp.500. Belakangan kutahu, moment OSPEK dimanfaatkan senior untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Padahal iuran OSPEK telah dibayar sebelumnya. Anggaran OSPEK pun mereka sunat, sudah bukan rahasia lagi. Pantas saja setelah OSPEK, himpunan punya TV, rice cooker, dispenser dan komputer baru.
Mahasiswa yang selama ini mengkritik birokrasi yang korupsi ternyata maling teriak maling. Maka perbedaan antara yang mengkritik dan yang dikritik adalah persoalan kesempatan dan waktu saja.
Belum cukup semua itu, saat peralihan dari OSPEK fakultas ke OSPEK jurusan, senior menyuruhku dan beberapa teman Push up. Saat posisi badan mendekati tanah, senior menginjak kepalaku lau disuruh menggigit tanah lalu dikumur-kumur.
Saat malam Bina akrab (kegiatan terakhir dari rangkaian OSPEK), semua MABA diwajbkan ikut. Pukul 03.00 dinihari, kami diculik satu persatu, mata ditutup (jika anda pernah melihat film “pengkhianatan G30S PKI” saat orde baru, adegan saat jendral diculik di rumahnya), malam bina akrab hampir sama dengan itu. Setelah sampai di sungai, penutup mata dibuka. Kami harus merayap di sungai yang banyak batunya. Saat itu mataku sempat dijadikan asbak rokok oleh senior.
Bagaimana dengan MABA yang tidak mengikuti OSPEK dan Bina akrab?, siksaannya dua kali lipat dari OSPEK dan Bina akrab. Mereka digiring ke WC sekretariat DEMA yang bau, disana baju mereka dilecuti lalu kepalanya ditutup ember lalu seluruh tubuhnya diguyur air terakhir dihajar habis-habisan oleh 10 senior, bahkan ada yang disundul puntung rokok. MABA itu hanya bisa menangis menahan perihnya tubuh yang telah bengkak.
Mungkin cerita ini belum cukup menguak tentang borok mahasiswa yang tersembunyi dibelakang cerita romantis masa lalu saat mahasiswa angkatan 66 dan 98 menumbangkan rezim tirani yang berkuasa.
Mahasiswa di kampusku gemar menyelesaikan masalah dengan jalan kekerasan. Tiap penerimaan mahasiswa baru, mereka tawuran. Maka kampusku tak jauh beda dengan keadaan di jalur Gaza. Jika di jalur Gaza, perang yang terjadi adalah perang suci, jika di kampusku, perang yang terjadi adalah perang konyol. Batu beterbangan, sarana dan prasarana kampus rusak, papporo dan beceng (senjata rakitan menyerupai pistol) meletus dan mahasiswa dengan bangga lari membawa parang sambil meneriakkan kata-kata kotor.
Namun anehnya sejak tahun 1995 hingga sekarang, tawuran belum pernah menelan korban (mati). Terakhir kudengar kabar, konflik berkepanjangan itu sengaja dipelihara oleh beberapa pihak internal dalam kampus ini. Buktinya tak ada tindakan keras bagi pelaku tawuaran padahal kampus ini kan sempit, sangat mudah untuk mendeteksi siapa pelakunya.
Belum lagi kondisi organisasi kemahasiswaanya. Coba anda jalan-jalan ke sekretariat BEM fakultas atau jurusan saat malam hari, maka akan mudah menjumpai mahasiswa yang sedang khusyuk menenggak minuman keras.
Miniatur korupsi juga mudah didapatkan saat pergantian masa kepengurusan Lembaga Kemahasiswaan (LK) fakultas atau universitas berakhir maka telah jadi kebiasaan barang inventaris lembaga seperti komputer dan kursi hilang. Siapa yang mengambilnya?, kupikir para fungsionaris lembaga tahu. Maka pengurus baru pun minta lagi ke birokrasi kampus. Sekali lagi, Maling Teriak Maling.
Akbar Mas'ud

puisi

Sebuah Puisi Serupa Tubuh
Seperti puisi itu, ia tak dikenal

Ia berjalan tak tahu arah
Ia berdendang tak tahu irama
Ia mengecap tak tahu rasa
Ia menghirup tak tahu aroma

Seperti tubuh itu, ia tanpa kepala

puisi

Perpisahan
Mungkin saya tak akan kembali
air mata bertelaga tatkala meninggalkan buku, Warnet juga kamar ini.
Mungkin saya tak lagi pulang
ternyata hidup harus begini, melukai mimpi menyongsong seringai iblis bernama kenyataan.
Mungkin saya tak lagi datang menyaksikan engkau juga mereka tertawa menanak mimipi.
Akbar Mas'ud