Epos Si Maling Teriak Maling
Sejak aku kecil, gelar mahasiswa telah menjadi epos tersendiri dalam hidupku. Bapakku yang aktivis da’wah sering mengadakan kajian intensif islam dengan mengundang mahasiswa sebagai pematerinya. Aku juga aktif dalam organisasi keislaman yang berskala Nasional, dikader oleh mahasiswa sebagai instrukturnya.
Di TV, sebelum reformasi, aku sering menyaksikan mahasiswa berdebat tentang politik, sosial, budaya, ekonomi dan pergerakan yang dipandu oleh Fajlur Rahman (mantan aktifis mahasiswa).
Saat aku masih sekolah, mahasiswa datang mensosialisasikan perguruan tingginya di kelasku. Mereka menceritakan tentang aktifitasnya di kampus, sekalian kuliah juga berorganisasi.
Saat Soeharto lengser, mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat, agen perubahan, kontrol sosial dan moral force. Kuukir dengan tinta emas dalam benakku bahwa mahasiswa itu kritis, idealis, cerdas, kreatif, alim, jujur dan anti kemapanan.
Namun semua itu sirna tatkala untuk pertama kalinya kakiku kuinjakkan di perguruan tinggi ini. Sebagai seorang mahasiswa yang lulus pada jalur Penerimaan Mahasiswa Melalui Jalur Khusus (PMJK), aku diintruksikan oleh senior untuk melapor ke Badan Eksekutif Mahsiswa (BEM) Fakultas dan Dewan Mahasiswa (DEMA) jurusan.
Sampai di BEM, saya dijadikan orang dungu, disuruh menyanyi dan membersihkan sekretariat BEM yang bau apeknya bukan main. Aku di perintah oleh senior memfotokopi formulir penerimaan mahasiswa baru dengan menghabiskan uang Rp.50.000, gila…..!!!.
Belum cukup, saat melapor di DEMA, permintaan senior bertambah gila lagi. Aku disuruh membawa sapu lidi, ember kecil, lilin, isolasi hitam dan ikan koy. Mau diapakan barang itu? (tanyaku dalam hati, kala itu) tapi aku tak berani bertanya, aku takut senior memukulku.
Di seketariat DEMA yang pengap, senior bertanya macam-macam, mulai dari siapa nama pacar hingga dimana Tuhan berada. Pertanyaan terakhir kuanggap sebagaai sinyal sedikit kecerdasan senior. Tapi belakangan kutahu ternyata senior yang bertanya itu doyan mabuk-mabukan, tawuran, malas kuliah, shalat, apa lagi baca buku.
Masih dalam kegaiatan pengambilan perlengkapan (Pra OSPEK), aku sudah dipukul, ditampar dan ditendang. Katanya OSPEK adalah Orientasi Pengenalan Kampus tapi kok malah jadi ajang pamer-pamer “kelebihan” dan pemalakan senior.
Hal yang paling lucu adalah bila ada Mahasiswa Baru (MABA) yang cantik, maka senior pasang aksi agar diperhatikan padahal wajahnya “hancur”, menjijikkan. Mereka lalu berlomba-lomba menggombal MABA tersebut.
Tak akan pernah hilang dalam ingatanku penyiksaan ini. Saat itu pukul 12 siang, matahari bersinar garang, aku disuruh berdiri merentangkan ke dua tangan, kaki kanan diangkat lalu kepala mendongak ke matahari selama 1 jam tanpa minum apalagi makan. Setelah itu aku diperintahkan untuk menempelkan telinga diatas tanah. Senior menyuruh mendengar air yang ada dalam tanah, tak masuk akal. Kalau tidak dengar aku disuruh telentang sambil merayap. Celakanya tanah di sekretarait DEMA berbatu. Kemeja hitamku yang baru 2 pekan dibeli menjadi lusuh seakan telah digunakan selama 5 tahun.
Tak cukup menyiksa fisik, senior menguras isi dompet. Bayangkan setiap hari selama OSPEK (1 pekan) harus membeli satu bungkus rokok yang berharga Rp.6.500 dan Rp.7.000. Belum lagi membawa 2 kaleng Coca-cola yang berisi uang koin Rp.500. Belakangan kutahu, moment OSPEK dimanfaatkan senior untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Padahal iuran OSPEK telah dibayar sebelumnya. Anggaran OSPEK pun mereka sunat, sudah bukan rahasia lagi. Pantas saja setelah OSPEK, himpunan punya TV, rice cooker, dispenser dan komputer baru.
Mahasiswa yang selama ini mengkritik birokrasi yang korupsi ternyata maling teriak maling. Maka perbedaan antara yang mengkritik dan yang dikritik adalah persoalan kesempatan dan waktu saja.
Belum cukup semua itu, saat peralihan dari OSPEK fakultas ke OSPEK jurusan, senior menyuruhku dan beberapa teman Push up. Saat posisi badan mendekati tanah, senior menginjak kepalaku lau disuruh menggigit tanah lalu dikumur-kumur.
Saat malam Bina akrab (kegiatan terakhir dari rangkaian OSPEK), semua MABA diwajbkan ikut. Pukul 03.00 dinihari, kami diculik satu persatu, mata ditutup (jika anda pernah melihat film “pengkhianatan G30S PKI” saat orde baru, adegan saat jendral diculik di rumahnya), malam bina akrab hampir sama dengan itu. Setelah sampai di sungai, penutup mata dibuka. Kami harus merayap di sungai yang banyak batunya. Saat itu mataku sempat dijadikan asbak rokok oleh senior.
Bagaimana dengan MABA yang tidak mengikuti OSPEK dan Bina akrab?, siksaannya dua kali lipat dari OSPEK dan Bina akrab. Mereka digiring ke WC sekretariat DEMA yang bau, disana baju mereka dilecuti lalu kepalanya ditutup ember lalu seluruh tubuhnya diguyur air terakhir dihajar habis-habisan oleh 10 senior, bahkan ada yang disundul puntung rokok. MABA itu hanya bisa menangis menahan perihnya tubuh yang telah bengkak.
Mungkin cerita ini belum cukup menguak tentang borok mahasiswa yang tersembunyi dibelakang cerita romantis masa lalu saat mahasiswa angkatan 66 dan 98 menumbangkan rezim tirani yang berkuasa.
Mahasiswa di kampusku gemar menyelesaikan masalah dengan jalan kekerasan. Tiap penerimaan mahasiswa baru, mereka tawuran. Maka kampusku tak jauh beda dengan keadaan di jalur Gaza. Jika di jalur Gaza, perang yang terjadi adalah perang suci, jika di kampusku, perang yang terjadi adalah perang konyol. Batu beterbangan, sarana dan prasarana kampus rusak, papporo dan beceng (senjata rakitan menyerupai pistol) meletus dan mahasiswa dengan bangga lari membawa parang sambil meneriakkan kata-kata kotor.
Namun anehnya sejak tahun 1995 hingga sekarang, tawuran belum pernah menelan korban (mati). Terakhir kudengar kabar, konflik berkepanjangan itu sengaja dipelihara oleh beberapa pihak internal dalam kampus ini. Buktinya tak ada tindakan keras bagi pelaku tawuaran padahal kampus ini kan sempit, sangat mudah untuk mendeteksi siapa pelakunya.
Belum lagi kondisi organisasi kemahasiswaanya. Coba anda jalan-jalan ke sekretariat BEM fakultas atau jurusan saat malam hari, maka akan mudah menjumpai mahasiswa yang sedang khusyuk menenggak minuman keras.
Miniatur korupsi juga mudah didapatkan saat pergantian masa kepengurusan Lembaga Kemahasiswaan (LK) fakultas atau universitas berakhir maka telah jadi kebiasaan barang inventaris lembaga seperti komputer dan kursi hilang. Siapa yang mengambilnya?, kupikir para fungsionaris lembaga tahu. Maka pengurus baru pun minta lagi ke birokrasi kampus. Sekali lagi, Maling Teriak Maling.
Di TV, sebelum reformasi, aku sering menyaksikan mahasiswa berdebat tentang politik, sosial, budaya, ekonomi dan pergerakan yang dipandu oleh Fajlur Rahman (mantan aktifis mahasiswa).
Saat aku masih sekolah, mahasiswa datang mensosialisasikan perguruan tingginya di kelasku. Mereka menceritakan tentang aktifitasnya di kampus, sekalian kuliah juga berorganisasi.
Saat Soeharto lengser, mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat, agen perubahan, kontrol sosial dan moral force. Kuukir dengan tinta emas dalam benakku bahwa mahasiswa itu kritis, idealis, cerdas, kreatif, alim, jujur dan anti kemapanan.
Namun semua itu sirna tatkala untuk pertama kalinya kakiku kuinjakkan di perguruan tinggi ini. Sebagai seorang mahasiswa yang lulus pada jalur Penerimaan Mahasiswa Melalui Jalur Khusus (PMJK), aku diintruksikan oleh senior untuk melapor ke Badan Eksekutif Mahsiswa (BEM) Fakultas dan Dewan Mahasiswa (DEMA) jurusan.
Sampai di BEM, saya dijadikan orang dungu, disuruh menyanyi dan membersihkan sekretariat BEM yang bau apeknya bukan main. Aku di perintah oleh senior memfotokopi formulir penerimaan mahasiswa baru dengan menghabiskan uang Rp.50.000, gila…..!!!.
Belum cukup, saat melapor di DEMA, permintaan senior bertambah gila lagi. Aku disuruh membawa sapu lidi, ember kecil, lilin, isolasi hitam dan ikan koy. Mau diapakan barang itu? (tanyaku dalam hati, kala itu) tapi aku tak berani bertanya, aku takut senior memukulku.
Di seketariat DEMA yang pengap, senior bertanya macam-macam, mulai dari siapa nama pacar hingga dimana Tuhan berada. Pertanyaan terakhir kuanggap sebagaai sinyal sedikit kecerdasan senior. Tapi belakangan kutahu ternyata senior yang bertanya itu doyan mabuk-mabukan, tawuran, malas kuliah, shalat, apa lagi baca buku.
Masih dalam kegaiatan pengambilan perlengkapan (Pra OSPEK), aku sudah dipukul, ditampar dan ditendang. Katanya OSPEK adalah Orientasi Pengenalan Kampus tapi kok malah jadi ajang pamer-pamer “kelebihan” dan pemalakan senior.
Hal yang paling lucu adalah bila ada Mahasiswa Baru (MABA) yang cantik, maka senior pasang aksi agar diperhatikan padahal wajahnya “hancur”, menjijikkan. Mereka lalu berlomba-lomba menggombal MABA tersebut.
Tak akan pernah hilang dalam ingatanku penyiksaan ini. Saat itu pukul 12 siang, matahari bersinar garang, aku disuruh berdiri merentangkan ke dua tangan, kaki kanan diangkat lalu kepala mendongak ke matahari selama 1 jam tanpa minum apalagi makan. Setelah itu aku diperintahkan untuk menempelkan telinga diatas tanah. Senior menyuruh mendengar air yang ada dalam tanah, tak masuk akal. Kalau tidak dengar aku disuruh telentang sambil merayap. Celakanya tanah di sekretarait DEMA berbatu. Kemeja hitamku yang baru 2 pekan dibeli menjadi lusuh seakan telah digunakan selama 5 tahun.
Tak cukup menyiksa fisik, senior menguras isi dompet. Bayangkan setiap hari selama OSPEK (1 pekan) harus membeli satu bungkus rokok yang berharga Rp.6.500 dan Rp.7.000. Belum lagi membawa 2 kaleng Coca-cola yang berisi uang koin Rp.500. Belakangan kutahu, moment OSPEK dimanfaatkan senior untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Padahal iuran OSPEK telah dibayar sebelumnya. Anggaran OSPEK pun mereka sunat, sudah bukan rahasia lagi. Pantas saja setelah OSPEK, himpunan punya TV, rice cooker, dispenser dan komputer baru.
Mahasiswa yang selama ini mengkritik birokrasi yang korupsi ternyata maling teriak maling. Maka perbedaan antara yang mengkritik dan yang dikritik adalah persoalan kesempatan dan waktu saja.
Belum cukup semua itu, saat peralihan dari OSPEK fakultas ke OSPEK jurusan, senior menyuruhku dan beberapa teman Push up. Saat posisi badan mendekati tanah, senior menginjak kepalaku lau disuruh menggigit tanah lalu dikumur-kumur.
Saat malam Bina akrab (kegiatan terakhir dari rangkaian OSPEK), semua MABA diwajbkan ikut. Pukul 03.00 dinihari, kami diculik satu persatu, mata ditutup (jika anda pernah melihat film “pengkhianatan G30S PKI” saat orde baru, adegan saat jendral diculik di rumahnya), malam bina akrab hampir sama dengan itu. Setelah sampai di sungai, penutup mata dibuka. Kami harus merayap di sungai yang banyak batunya. Saat itu mataku sempat dijadikan asbak rokok oleh senior.
Bagaimana dengan MABA yang tidak mengikuti OSPEK dan Bina akrab?, siksaannya dua kali lipat dari OSPEK dan Bina akrab. Mereka digiring ke WC sekretariat DEMA yang bau, disana baju mereka dilecuti lalu kepalanya ditutup ember lalu seluruh tubuhnya diguyur air terakhir dihajar habis-habisan oleh 10 senior, bahkan ada yang disundul puntung rokok. MABA itu hanya bisa menangis menahan perihnya tubuh yang telah bengkak.
Mungkin cerita ini belum cukup menguak tentang borok mahasiswa yang tersembunyi dibelakang cerita romantis masa lalu saat mahasiswa angkatan 66 dan 98 menumbangkan rezim tirani yang berkuasa.
Mahasiswa di kampusku gemar menyelesaikan masalah dengan jalan kekerasan. Tiap penerimaan mahasiswa baru, mereka tawuran. Maka kampusku tak jauh beda dengan keadaan di jalur Gaza. Jika di jalur Gaza, perang yang terjadi adalah perang suci, jika di kampusku, perang yang terjadi adalah perang konyol. Batu beterbangan, sarana dan prasarana kampus rusak, papporo dan beceng (senjata rakitan menyerupai pistol) meletus dan mahasiswa dengan bangga lari membawa parang sambil meneriakkan kata-kata kotor.
Namun anehnya sejak tahun 1995 hingga sekarang, tawuran belum pernah menelan korban (mati). Terakhir kudengar kabar, konflik berkepanjangan itu sengaja dipelihara oleh beberapa pihak internal dalam kampus ini. Buktinya tak ada tindakan keras bagi pelaku tawuaran padahal kampus ini kan sempit, sangat mudah untuk mendeteksi siapa pelakunya.
Belum lagi kondisi organisasi kemahasiswaanya. Coba anda jalan-jalan ke sekretariat BEM fakultas atau jurusan saat malam hari, maka akan mudah menjumpai mahasiswa yang sedang khusyuk menenggak minuman keras.
Miniatur korupsi juga mudah didapatkan saat pergantian masa kepengurusan Lembaga Kemahasiswaan (LK) fakultas atau universitas berakhir maka telah jadi kebiasaan barang inventaris lembaga seperti komputer dan kursi hilang. Siapa yang mengambilnya?, kupikir para fungsionaris lembaga tahu. Maka pengurus baru pun minta lagi ke birokrasi kampus. Sekali lagi, Maling Teriak Maling.
Akbar Mas'ud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar